Gunung bromo


Dari Sudut Manapun Bromo Tetap Memikat


PROBOLINGGO, KOMPAS.com — Berbagai media baik cetak maupun elektronik melaporkan secara dramatis kondisi Gunung Bromo yang kini dinilai kritis setelah penetapan status Awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Selasa (23/11/2010).

Ketika kami di Jakarta, ada kabar Bromo menggeliat, kami pun menuju ke sini. Ternyata, pemandangannya sangat indah, kepulan asapnya menakjubkan. Kami tak takut.
— Van loo Sonia, turis Belgia

Namun, tak bisa dipungkiri, gunung terindah di Jawa Timur ini masih begitu memikat bagi para wisatawan. Larangan bagi siapa pun untuk menjejakkan kaki di lautan pasir Gunung Bromo pada radius tiga kilometer dari kawah ternyata tak menyurutkan niat para wisatawan untuk menyaksikan pemandangan indah gunung ini.

Dua wisatawan mancanegara asal Belgia, Van loo Sonia dan Deurwaerder Julie, misalnya, justru mengunjungi Bromo setelah mendengar kabar bahwa aktivitas gunung ini meningkat.

“Ketika kami di Jakarta, ada kabar Bromo menggeliat, kami pun menuju ke sini. Ternyata, pemandangannya sangat indah, kepulan asapnya menakjubkan. Kami tak takut karena masyarakat setempat mengatakan situasinya masih aman,” ungkap Van Loo, Minggu (28/11/2010).

Pemandangan Bromo memang menakjubkan. Pada Senin (29/11/2010) dini hari ratusan wisatawan domestik dan mancanegara menumpang sekitar 50 mobil jip serta puluhan sepeda motor naik ke Bukit Penanjakan II, Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo.

Tujuan mereka hanya satu, ingin menyaksikan pemandangan Bromo saat matahari terbit dari ufuk timur.

Perkiraan para wisatawan sangat tepat. Cuaca Bromo pada Senin (29/11) sangat indah. Dari arah Bukit Penanjakan II, kepulan asap Bromo tampak membubung ke atas lalu tersapu angin ke arah barat daya.

Dini hari tadi, ratusan pengunjung sudah memadati jalan menuju Bukit Penanjakan II. Mereka datang pukul 03.00 lalu menyaksikan matahari terbit sekitar pukul 06.00. Meski ada larangan, turis yang datang ada saja, kata Muliat (60), warga Desa Ngadisari.

Selain di Penanjakan II, pada pagi hari wisatawan juga banyak berdatangan di sekitar Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo. Dusun yang berada di sisi utara Bromo itu menjadi lokasi strategis untuk menyaksikan Bromo secara bebas.

Tiga titik strategis

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, para wisatawan masih bisa menyaksikan Bromo pada radius di luar tiga kilometer tanpa harus turun ke lautan pasir.

Setidaknya terdapat tiga titik strategis untuk menikmati Bromo. Ketiga lokasi yang berada di bibir kaldera lama Bromo itu adalah Pos Penanjakan I di Pasuruan, Pos Penanjakan II di Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Probolinggo, dan Pos Mentigen di Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Probolinggo, juga.

“Masih ada wisatawan mancanegara yang ingin menikmati pemandangan Bromo. Mereka harus tetap dilayani dan dipastikan mendapatkan kesenangan sekaligus kenyamanan dengan tetap mematuhi panduan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),” kata Tutug.

Menurut Tutug, di Pos Penanjakan I (Pasuruan) dan Penanjakan II (Probolinggo) wisatawan dapat menyaksikan pemandangan Gunung Bromo sekaligus menikmati sunrise atau matahari terbit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s